[Review] Violet Evergarden: Eternity and the Auto Memory Doll

Sinopsis: Keluarga kerajaan Drossel menugaskan Violet Evergarden (Yui Ishikawa) untuk menjadi tutor Isabella York (Minako Kotobuki), seorang siswa di sekolah khusus putri, untuk debutnya dalam pesta dansa. Isabella mungkin memiliki ayah yang baik, tetapi ketika Violet berteman dengannya, dia menemukan bahwa Isabella memiliki masa lalu yang buruk karena kemiskinan dan perpisahan. Dengan bantuan Benedict (Koki Uchiyama) dan dengan kekuatan emosional surat-suratnya, Violet berangkat untuk menghubungkan kembali Isabella dengan masa lalunya.

18 Juli 2019. Waktu itu, saya sedang berada di Kumamoto. Lebih tepatnya, di selatan Jepang. Pagi itu, televisi lokal sedang menayangkan breaking news tentang sebuah kebakaran hebat yang terjadi di wilayah Kyoto, 700 kilometer dari tempat saya berada. Di liputannya, terlihat asap yang sangat tebal dan para pemadam yang bersusah payah memadamkan api dari suatu gedung. Awalnya, saya menganggap itu kebakaran yang biasa saja. Tetapi, mengapa mereka menjadikannya breaking news dan mengapa nada presenternya sangat serius dengan liputan langsung? Ternyata, itu bukan kebakaran biasa. Begitu presenternya menyebut kata “Kyoto Animation”, saya langsung terdiam tak percaya.

Violet Evergarden

Violet Evergarden: Eternity and the Auto Memory Doll adalah film terakhir produksi studi animasi ternama Kyoto Animation sebelum kejadian pembakaran studionya. Sebagai salah satu fans seluruh karyanya, kejadian tersebut cukup memukul bagi saya dan para fans anime di seluruh dunia. Bagaimana tidak, Kyoto Animation adalah salah satu studio anime terbaik yang dimiliki oleh Jepang karena kualitas produksinya yang tinggi dan konsisten serta kultur organisasi yang jauh lebih baik daripada studio anime lain. Sebagian besar animatornya masih muda dan mendapatkan gaji tetap. Hal tersebut sangat jarang didapatkan oleh para animator lain (yang digaji berdasarkan jumlah gambar yang dikerjakan).

Untuk filmnya, walaupun dikisahkan sebagai gaiden / 外伝  (side story/cerita sampingan), ternyata berlatar 4 tahun setelah serial awalnya yang tayang pada 2018 lalu. Seluruh staffnya masih sama dengan serialnya seperti musik dari Evan Call dan skenario oleh Reiko Yoshida. Namun, kali ini sutradaranya adalah Haruka Fujita setelah sebelumnya dipegang oleh Taichi Ishidate. Sangat disarankan untuk menonton serialnya terlebih dahulu untuk memahami siapa Violet dan bagaimana kisah perjalanannya yang dapat disaksikan di Netflix. Pada intinya, Violet adalah seorang veteran yang menjadi penulis surat untuk orang lain yang disebut sebagai “Auto Memory Doll”. Film ini menjadi salah satu kisahnya untuk melayani klien terbarunya, Isabella York. Bagaimanakah hasilnya?

Filmnya sendiri terbagi dalam dua bagian. Yang pertama adalah cerita Violet yang menjadi tutor Isabella York selama di sekolah khusus putri yang ceritanya lebih mirip episode serialnya. Yang bagian kedua adalah cerita seorang anak yatim yang ingin bekerja sebagai pengantar surat di perusahaan Violet bekerja. Meskipun terdengar berbeda jauh, kedua cerita ini sebenarnya saling terhubung satu sama lain.

BACA JUGA: [Review] 1917

Bagian pertama cerita dengan Isabella York, menurut saya adalah yang paling tak membosankan. Pengembangan karakter Isabella York sukses diceritakan dengan efektif dan tak bertele-tele. Hubungannya dengan Violet awalnya cukup dingin. Namun, seiring waktu ia dapat lebih dekat dengan Violet dan dapat menceritakan trauma masa lalunya. Satu hal yang cukup mengejutkan dari kisah ini adalah bagaimana ceritanya sedikit belok ke arah yuri. Dari adegan mandi bersama, tidur bersama sambil berpegangan tangan, sampai adegan dansa berdua. Adegan-adegan tersebut ditampilkan dengan sedikit intim. Layaknya film romansa berlatar kerajaan. Kalau mungkin Anda tak nyaman dengan itu, tenang saja. Tidak ada satupun adegan yang terlalu grafik ataupun seksual.

Bagian kedua berfokus pada Taylor, seorang anak yatim yang ingin menjadi pengantar surat seperti Benedict. Dibanding bagian pertamanya yang sedikit yuri, bagian kedua ini suasananya lebih ringan dan heartfelt. Walaupun nada bicara Taylor (yang suaranya diisi oleh Aoi Yuuki) agak bising, ceritanya cukup nyaman untuk diikuti.

Sayangnya, dari kedua kisah tersebut tak ada perubahan yang berarti dari serialnya. Kelebihan dan kekurangan serialnya masih terasa di film ini. Pola cerita yang sama seperti serialnya masih digunakan di film ini seperti perkenalan standar Violet kepada pelanggannya, sampai adegan tangan mekanik Violet yang membuat semua orang tertegun. Meskipun tak mengganggu keseluruhan film, rasanya sayang jika mereka selalu memakai pola cerita yang sama dari sebelumnya. Jika Anda berharap ceritanya akan menguras air mata, jangan khawatir. Ceritanya secara keseluruhan cukup emosional untuk membuat penonton meneteskan air mata dari temanya tentang perpisahan.

Untuk animasinya, tak perlu dipertanyakan lagi. Kualitas produksi Kyoto Animation masih sangat tinggi dengan gambaran yang detail dan pergerakan animasinya yang mulus. Penggunaan cahaya dan warnanya cukup indah dan realistis layaknya film live-action daripada film animasi. Pergerakan animasi dari setiap tokoh yang ada juga cukup kompleks dari pergerakan kaki, jari, sampai mimik wajah sekalipun digambarkan dengan detail sehingga semakin menambah realismenya. Soal latar musik yang dibuat oleh Evan Call, masih indah seperti biasanya. Namun, tak ada yang baru dan malah lebih banyak menggunakan latar musik yang ada di serialnya.

Setelah kejadian kebakaran tersebut, rasanya sulit untuk berharap Kyoto Animation bisa kembali seperti semula. 36 staff yang meninggal dunia akan menjadi luka yang sangat dalam bagi mereka. Disaat beberapa proyek di pending, mereka memutuskan untuk tetap menayangkan film ini ke masyarakat dunia. Temanya tentang perpisahan, seakan menjadi pesan penting dari seluruh yang berpulang bahwa film ini adalah bukti bahwa mereka telah hidup. Film terbaru Violet Evergarden yang akan dirilis April 2020 nanti juga menjadi bukti bahwa Kyoto Animation masih akan tetap berdiri dan berjalan terus dari tragedi yang menimpanya.

Violet Evergarden: Eternity and the Auto Memory Doll dapat disaksikan di bioskop seluruh Indonesia mulai 29 Januari 2020

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × four =