[Review] Roma (2018) Indonesia

Sinopsis: Mengisahkan tentang setahun kehidupan Cleodegaria “Cleo” Gutiérrez (Yalitza Aparacio), seorang pembantu / asisten rumah tangga di sebuah keluarga menengah di distrik Colonia Roma, Mexico di awal tahun 1970-an.

Dari sutradara Children of Men dan Gravity, Alfonso Cuarón kembali menyutradarai sebuah film semi auto-biografi berjudul Roma. Walaupun rilisnya hanya melalui Netflix (dengan penayangan di layar lebar secara terbatas), hal tersebut tidak menjadikan film ini menjadi murahan. Ratusan penghargaan dan nominasi didapatkan oleh film ini sejak penayangan perdananya di 75th Venice International Film Festival. Selain itu, film ini memiliki kemungkinan yang sangat besar untuk masuk nominasi Best Picture di 91st Academy Award dan menjadikannya film Netflix pertama yang bisa masuk nominasi bergengsi tersebut. Memang, apa spesialnya film Roma ini?

foto keluarga sofia
Keluarga Sofia 

Di awal film, kita disuguhkan dengan adegan sebuah lantai yang disiram air sembari dibersihkan oleh sang bintang film ini, Cleo (Yalitza Aparacio). Seorang pembantu yang mungkin Anda kenal di rumah Anda. Kita tahu bahwa Cleo ini cukup bahagia di rumah majikannya. Anak-anak majikannya menyukainya, majikannya mengajaknya pergi ke acara keluarga, dan kedekatannya dengan teman sesama pembantunya, Adela (Nancy García). Meskipun begitu, ia memiliki masalah sendiri dengan pacarnya, Fermin (Jorge Antonio Guerrero) yang meninggalkannya begitu saja saat dia hamil.

Roma juga bercerita tentang majikannya Cleo, Sofia (Marina de Tavira) yang memiliki 4 anak dan bercerai dengan suaminya. Suaminya, Antonio (Fernando Grediaga) meninggalkannya untuk perempuan lain dan Sofia tidak memberitahukan kenyataan pahit tersebut kepada anak-anaknya. Ia hanya memberitahu bahwa ayah mereka sedang pergi ke sebuah konferensi di Kanada. Yang saya suka dari Sofia adalah bagaimana hubungannya dengan Cleo ditampilkan. Meskipun Cleo hanyalah pembantunya, ia masih bersikap baik dan menghormati kepadanya. Sofia juga membantu mengantarkan Cleo ke rumah sakit untuk memeriksa kehamilannya. Selain itu, ada quotes yang cukup powerful dalam sepenggal dialog Sofia kepada Cleo: “We are alone. No matter what they tell you, we women are always alone.”

cleo, sofia, dan anak-anaknya saling berpelukan di pantai: "We love you so much, Cleo. Right? We love you so, so much."
“We love you so much, Cleo. Right? We love you so, so much.”

Dari segi cerita, memang tidak ada sesuatu yang cukup revolusioner dari sinopsisnya. Namun, yang membuat ceritanya spesial adalah cara penyampaiannya. Cuarón menyampaikan cerita Roma tidak secara langsung. Namun, ia menyelipkan beberapa foreshadowing dan juga adegan-adegan simbolis apik yang membuat Roma menjadi lebih artistik dan berkualitas. Salah satu contohnya, ketika Cleo ingin bersulang minuman sembari berdoa untuk “tahun yang lebih baik”. Tiba-tiba, ada orang yang menyenggolnya dan membuat minumnya tumpah serta gelasnya pecah. Bisa Anda tebak kan kira-kira apa artinya? Hal-hal kecil tersebut bukan hanya sebuah gimmick ataupun adegan penghias tanpa sebuah arti. Tetapi, juga berhubungan dengan ceritanya secara keseluruhan.

BACA JUGA: [Review] Keluarga Cemara (2019)

Selain penyampaian ceritanya, yang bersinar dalam Roma adalah akting dari Marina de Tavira dan Yalitza Aparacio. Marina de Tavira yang memerankan Sofia sukses membawakan sesosok tokoh ibu yang berusaha menyembunyikan rasa sakitnya disaat hal berat terjadi. Yalitza Aparacio, yang tidak memiliki pengalaman akting sedikit pun, mampu membuktikan bahwa aktingnya juga tidak kalah dibandingkan artis-artis Hollywood. Saya sampai tidak habis pikir betapa hebatnya Yalitza dalam memerankan Cleo. Porsi dialognya memang tidak banyak. Namun, Yalitza tetap berhasil membuat penonton lebih “mengenal” Cleo melalui gestur dan ekspresi tubuh yang ditampilkan. Dari kebingungannya saat ditinggal sendirian di bioskop oleh Fermin, sampai ketakutannya saat menyelamatkan anak-anak Sofia di pantai semuanya ditampilkan dengan sangat natural dan tak ada satu pun yang over-dramatis. Apalagi, setiap saat kamera menampilkan wajah Cleo, kita seolah-olah dapat merasakan berbagai macam emosi yang ada di dalam dirinya. Semuanya terasa real dan indah.

Sang sutradara Alfonso Cuarón dan Yalitza Aparicio (Cleo) di balik layar
Sang sutradara Alfonso Cuarón (kiri) dan Yalitza Aparicio (Cleo) di balik layar

Di sisi teknis, Roma menghadirkan pengalaman menonton yang luar biasa. Walaupun filmnya hitam putih, itu tidak membuat Roma menjadi suatu film yang membosankan karena di setiap shotnya Roma terasa sangat hidup. Seperti saat Cleo dan Adela berlari di jalanan kota Meksiko. Pada adegan ini, kamera hanya berpindah dari kanan ke kiri saja. Namun, di layar kita seolah-olah melihat banyak sekali kehidupan orang-orang Meksiko di tahun 70an beserta keindahan jalanan kotanya yang terasa benar-benar hidup. Tidak hanya itu saja, banyak sekali shot-shot indah lainnya di sepanjang film ini. Rasanya sangat sayang kalau film ini tidak bisa dinikmati di layar lebar bioskop konvensional.  Alfonso Cuarón, yang memegang langsung bagian sinematografi dan juga penyuntingan Roma sukses membuat penonton seakan-akan melihat kisah Cleo melalui “jendela”. Jendela yang membuat penonton dapat melihat sekaligus merasakan dunia yang ditinggali oleh Cleo.

Rasanya sulit bagi film lain untuk dapat menyamai—atau melebihi— film seperti Roma ini. Sulit untuk menyaingi film yang luar biasa ini di musim-musim penghargaan film di minggu-minggu mendatang. Sinematografi yang indah, skrip yang kuat, akting yang cemerlang, hanyalah sebagian dari kehebatan film ini. Roma, secara keseluruhan adalah film yang luar biasa dan Netflix sukses membuat pihak-pihak elitis film berpikir kembali soal film-film yang dirilis oleh Netflix. Netflix berhasil membuktikan bahwa film mereka sendiri dapat berjaya di berbagai festival film dengan sambutan yang amat positif  pula. Tak dipungkiri lagi, Roma adalah salah satu film terbaik tahun 2018 yang tidak boleh Anda lewatkan.

Roma dapat Anda tonton disini melalui Netflix mulai 14 Desember 2018

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 + seven =