[Review] Milea: Suara dari Dilan

Sinopsis: Dilan (Iqbaal Ramadhan), panglima tempur sebuah geng motor di Bandung awal 90an, menjalin hubungan dengan seorang siswi baru dari Jakarta bernama Milea (Vanesha Prescilla). Dilan selalu bahagia saat bersama Milea, namun teman-teman geng motor merasa Dilan makin menjauh dari kelompoknya karena Milea. Terjadi peristiwa mengerikan: salah satu anggota mereka, Akew (Gusti Rayhan), meninggal akibat dikeroyok oleh sekelompok orang. Peristiwa itu membuat Milea khawatir akan keselamatan Dilan. Milea membuat keputusan untuk berpisah dengan Dilan sebagai peringatan agar Dilan menjauh dari geng motor. Peristiwa Akew menyeret Dilan ke pihak berwajib bersama teman-temannya. Perpisahan yang tadinya hanya gertakan Milea menjadi perpisahan yang berlangsung lama sampai mereka lulus kuliah dan dewasa. Mereka berdua masih membawa perasaan yang sama saat mereka kembali bertemu di reuni, namun masing-masing saat itu sudah memiliki pasangan.

Setelah putus cinta, apa yang akan anda lakukan? Memikirkan mantan yang tak kembali? atau malah buka aplikasi tinder lagi untuk mencari calon mantan yang lain? Entahlah setiap orang punya pilihannya. Tapi untuk Dilan, setelah putus ia masih bertanya-tanya. Kenapa pacarnya yang susah payah ia kejar, Milea, memutuskan untuk putus darinya? Karena ikut geng motor? Atau karena salah satu kawannya meninggal? Dilan un tak tahu. Yang ia tahu, ia hanya tidak ingin dikekang dan ingin bebas. Tak seperti saat dengan Milea. Karena itulah, ia memutuskan untuk membuat “klarifikasi” dari kisah cintanya dan apa yang sebenarnya terjadi disaat Milea tak ada.

Milea: Suara dari Dilan adalah film lanjutan dari film roman remaja paling laris di Indonesia, Dilan 1990 dan Dilan 1991. Dengan sutradara, kru, dan pemain yang masih sama. Film ini juga sebagai konklusi dari kisah cinta Dilan selama tahun 90an dan bagaimana nasib akhirnya dengan Milea yang meninggalkannya. Sesuai dengan slogan Suara dari Dilan, film ini adalah cerita yang sama dengan film-film sebelumnya. Hanya saja, dari perspektif Dilan.

Bagi yang sudah menonton kedua film sebelumnya, jujur tak ada banyak hal baru yang ditampilkan. Memang, ada beberapa adegan tambahan yang menjelaskan dimana Dilan dan apa yang ia lakukan selama ia tak bersama Milea. Sayangnya, sebagian besar adegannya sudah ada di film-film sebelumnya dan tidak menambah nilai baru dari filmnya. Kalaupun ada yang baru, itu adalah adegan beberapa tahun setelah film Dilan 1991 saat Dilan dan Milea sudah bekerja. Namun lagi-lagi, adegan tersebut tak begitu lama dan hampir semuanya sudah ada di trailernya. Bagi fans Dilan yang mencari manisnya hubungan Dilan dan Milea juga siap-siap kecewa. Tak banyak adegan tersebut di film ini mengingat latar film ini setelah mereka putus.

BACA JUGA[Review] Little Women (2019)

Dengan slogan Suara dari Dilan, seharusnya filmnya bisa menyampaikan hal yang tak dapat disampaikan di 2 film sebelumnya seperti apa yang Dilan pikirkan dan bagaimana perkembangan karakternya yang sempat terlewatkan. Milea: Suara dari Dilan sudah melakukan yang pertama. Perubahan perspektif ke Dilan membuat penonton paham apa yang Dilan rasakan selama ia bersama Milea. Berbagai konflik yang terjadi beserta penyelesaiannya dijelaskan cukup baik dan menunjukkan labilnya remaja SMA seperti Dilan. Seperti kenapa ia sampai bertengkar dengan teman baiknya sampai bagaimana berlebihannya ia bertindak setelah temannya meninggal.

Bagaimana dengan pengembangan karakter? Tak banyak sebenarnya. Dilan masih seorang yang keras kepala dengan idealisme yang tak ingin dikekang. Dilan berusaha membela apa yang ia lakukan. Ia frustasi dengan segala hal yang terjadi dengannya dan betapa sulitnya menjaga hati seorang wanita. Padahal, Milea hanya ingin satu hal dari Dilan: Keluar dari geng motor. Dilan tak menggubrisnya. Beberapa tahun kemudian, ia keluar dengan sendirinya seiring ia bertambah umur dan bekerja. Seakan-akan waktu memaksa Dilan untuk menjadi dewasa.

Tapi, ada satu pelajaran berharga setelah menonton Milea. Tentang bagaimana pentingnya komunikasi dalam suatu hubungan. Milea yang berubah menjadi objek di film ini, masih mencari-cari kemana Dilan. Bertahun-tahun setelahnya sampai ia memiliki pekerjaan dan tunangan pun, masih saja memiliki rasa dengan Dilan. Setelah bertemu dengannya, ternyata selama ini mereka berdua saling salah paham dan ditambah Dilan tak jujur dengannya. Bila saja Dilan dan Milea duduk bersama dan saling berbicara, tentu saja mereka masih bisa bersatu.

Secara garis besar, Milea: Suara dari Dilan hanyalah perpanjangan dari film-film sebelumnya. Dengan durasi 103 menit, adegan yang ditampilkan tak banyak yang baru. Kalaupun ada, sudah ada di trailernya. Perubahan perspektif yang ditawarkan justru semakin menunjukkan betapa tak dewasanya Dilan dalam bertindak. Sayangnya, film ini juga tak menggambarkan Dilan yang berubah menjadi lebih baik. Dilan masihlah Dilan. Sang panglima tempur yang terpaksa menelan pil pahit bahwa waktu memaksanya dewasa dan tak dapat lagi bersatu dengan Milea.

Milea: Suara dari Dilan dapat disaksikan di bioskop seluruh Indonesia mulai 13 Februari 2020

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 − twelve =