[Review] Keluarga Cemara (2019)

Sinopsis: Abah (Ringgo Agus Rahman), sangat ingin bertahan setelah rumah dan pasca hartanya disita oleh debt collector untuk membayar hutang perusahaan kakak iparnya, dengan cara pindah sementara ke rumah di desa terpencil di Jawa Barat. Karena kasusnya kalah di pengadilan, keluarganya terancam selamanya hidup dalam kemiskinan di desa itu. Abah kini harus beradaptasi secara ekonomi bersama keluarga kecilnya, Emak (Nirina Zubir), Euis (Zara JKT48) yang beranjak remaja, serta Cemara/Ara (Widuri Puteri) yang penuh semangat. Mereka juga harus menghadapi masalah-masalah keluarga yang perlahan mengguncang prinsip mereka bahwa “harta yang paling berharga adalah keluarga.”

Diangkat dari novel dan sinetron legendaris karya Arswendo Atmowiloto, Keluarga Cemara adalah film keluarga yang menjadi pembuka perfilman Indonesia selain DreadOut. Awalnya, film ini ditayangkan pada press sccreening di Jakarta pada tanggal 13 November 2018. Lalu, mulai ditayangkan ke publik pertama kali pada Jogja-NETPAC Asian Film Festival pada tanggal 29 November 2018 dan akhirnya rilis di seluruh Indonesia pada 3 Januari 2019. Film ini bukanlah sebuah lanjutan ataupun remake. Tetapi, lebih ke cerita baru dengan pendekatan modern dan juga asal muasal Keluarga Cemara bisa jatuh miskin.

Cuplikan adegan di Keluarga Cemara
Cuplikan adegan di Keluarga Cemara

Awalnya, saya kira cerita Keluarga Cemara jadi cerita yang sinetron banget dengan dialog-dialog kaku dan cerita sedih yang mengeksploitasi kemiskinan. Untungnya, saya salah. Skenario yang dibuat oleh Gina S. Noer dan sang sutradara sendiri, Yandy Laurens sukses membuat cerita yang berjalan alami dan juga konflik-konflik yang cukup kuat. Konflik yang ditampilkan sebagian besar adalah konflik sehari-hari yang mungkin sering dialami dalam sebuah keluarga. Seperti Abah yang frustrasi untuk mencari pekerjaan baru, Emak yang harus berhemat saat memasak, Euis dan Ara yang harus beradaptasi, dan sebagainya. Semuanya digambarkan dengan cukup realistis dan juga sangat relatable. Meskipun konfliknya sehari-hari, dialog dan pengembangan tokohnya yang apik membuat konfliknya terasa lebih hidup dan dekat dengan penonton.

BACA JUGA: [Review] Black Mirror: Bandersnatch Indonesia

Pengembangan tokoh yang kuat juga jadi salah satu kelebihan Keluarga Cemara. Dari awal sampai akhir, kita benar-benar melihat bagaimana keluarga ini dari yang awalnya kaya dan serba berkecukupan sampai menjadi jatuh miskin dan bangkrut. Sepanjang film, kita benar-benar melihat bagaimana Abah dan Emak berusaha mempertahankan keluarganya dan juga Euis dan Ara yang harus menyesuaikan diri dengan keadaan sekaligus menjadi semakin dewasa. Karena konflik dan penulisan dialognya yang kuat, pengembangan tokoh yang ditampilkan juga menjadi maksimal. Saya juga cukup apresiasi dengan menambahkan suatu elemen yang mungkin hampir tidak pernah dibahas di film-fil remaja di Indonesia: soal menstruasi pertama. Saya cukup kaget film ini berani untuk membahas dan menampilkan hal tersebut. Tapi, kesannya tetap natural dan tidak dipaksakan. Sehingga, pesan yang ingin disampaikan tetap tercapai. Untuk pesan moral, saya akui film ini memiliki banyak sekali pesannya. Walaupun pada intinya tetap sama (kembali ke keluarga), pesan-pesan yang ingin diberikan tidak disampaikan dengan cara yang repetitif dan juga tidak terkesan menggurui. Hanya dalam 110 menit, Keluarga Cemara sukses menampilkan pengembangan tokoh yang memuaskan dan juga berbagai pesan moral di setiap dialog dan konfliknya.

foto keluarga cemara
Harta yang paling berharga

Dari teknis, saya akui film itu tergolong di atas rata-rata untuk film bergenre drama. Pengambilan gambar apik, penataan suara yang rapi, sampai akting ditampilkan dengan maksimal. Dari pembuka sampai kredit, setiap adegan ditata dengan sangat baik dengan pencahayaan pas, tone warna yang sesuai, dan juga pengambilan gambar yang tidak membosankan. Latar musik yang ditampilkan juga tidak melulu memutar lagu tema “Harta Berharga”. Tapi, juga musik-musik lain yang tidak hanya pas, tetapi juga mendukung dramatisasinya. Akting dari seluruh pemainnya juga ditampilkan dengan cukup baik. Salah satu yang paling mencolok adalah Widuri Puteri (pemeran Ara) yang sukses mencuri perhatian dengan kehebatannya dalam memerankan tokoh anak-anak yang polos dan juga dengan pembawaan yang cukup emosional. Widuri Puteri boleh saja masih anak-anak. Namun, aktingnya tidak kalah sama sekali dengan orang yang lebih tua darinya. Unsur komedi yang ada juga dibuat dengan cukup minimal. Sebagian besar komedinya adalah comic relief yang dibawakan oleh Abdurrahman Arif dan Asri Welas yang hebatnya, tidak mengganggu filmnya namun justru membuat ceritanya semakin menarik dan menghibur.

Di akhir, Keluarga Cemara bukanlah film yang bisa dianggap remeh. Di tengah gempuran film horor kelas B dan film romansa yang tidak romantis, masih ada film keluarga yang memiliki cerita yang kuat dan juga kualitas yang tinggi. Keluarga Cemara sekarang sudah memiliki lebih dari satu juta penonton. Untuk film keluarga, itu bukanlah angka yang kecil. Selain itu, ini membuktikan bahwa film keluarga yang berkualitas pun bisa membuat banyak orang berbondong-bondong datang ke bioskop. Yandy Laurens sukses membuat Keluarga Cemara jadi pembuka yang luar biasa bagi perfilman Indonesia di tahun 2019.

Keluarga Cemara dapat disaksikan di bioskop seluruh Indonesia mulai 3 Januari 2019

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven + ten =