[Review] Captain Marvel

Sinopsis: Berlatar pada tahun 1995, Captain Marvel bercerita tentang Carol Denvers (Brie Larson), seorang mantan pilot pesawat tempur Angkatan Udara AS yang berubah menjadi salah satu pahlawan galaksi terkuat dan bergabung dengan Starforce, sebuah tim militer elit Kree. Saat kembali, ia memiliki berbagai pertanyaan tentang masa lalu dan identitasnya. Disaat bersamaan, Bumi sedang berada di tengah konflik antara dua dunia alien.

Masih penasaran dengan kelanjutan ending yang mengejutkan pada Avengers: Infinity War tahun lalu? Tenang! Karena sebelum merilis lanjutan dari Infinity War, Disney merilis sebuah film baru. Film origin seorang superhero baru yang tentu saja akan muncul di Endgame nanti. Yap, Captain Marvel adalah film superhero Marvel pertama yang akan dirilis tahun ini sebelum Avengers: Endgame dan Spiderman: Far from Home. Captain Marvel sendiri merupakan film superhero Marvel pertama yang bertokoh utama seorang perempuan. Kali ini, filmnya disutradarai oleh Anna Boden dan Ryan Fleck. Lalu, bagaimanakah filmnya?

foto Brie Larson/Captain Marvel
Higher, further, faster!

Dari awal, saya sudah menduga bahwa Captain Marvel akan mengikuti formula yang sama dengan film-film Marvel pada umumnya. Terutama berupa “origin” dari suatu tokoh. Selesai menonton, saya ternyata tidak salah. Namun, tidak terlalu benar juga. Captain Marvel memiliki pendekatan yang sedikit berbeda dalam penyampaian ceritanya. Tidak seperti film-film sebelumnya yang alurnya cukup sederhana dan mudah diikuti, sekarang Captain Marvel memilih untuk menyampaikan ceritanya dengan beberapa twist plot dan juga sedikit feminisme. Hasilnya? Tidak terlalu buruk! Saya justru lebih suka jika (akhirnya) film Marvel bisa menghibur penonton dengan cara yang berbeda. Walaupun, ujung-ujungnya mereka masih terjebak dengan formula film Marvel yang sudah usang.

BACA JUGA: [Review] Antologi Rasa

Yang paling saya suka adalah pengembangan setiap tokohnya yang secara mengejutkan, cukup kuat. Baik Carol, maupun orang-orang Kree, Skrull, dan tokoh pendukung lain mendapatkan pengembangan yang cukup dalam dan saya rasa itu adalah kemajuan yang signifikan untuk film Marvel. Apalagi, Brie Larson yang pernah memenangkan Academy Award untuk aktris terbaik, sukses menampilkan performa yang sangat baik sebagai Carol Danvers / Captain Marvel sehingga seluruh adegan emosional bagi tokohnya menjadi cukup terasa. Ini penting karena daripada kita hanya melihat superhero yang hanya melawan penjahat terus menerus, lebih baik kita mendapatkan tokoh superhero yang menarik dengan motivasi dan cerita yang kuat dan Captain Marvel berhasil dalam hal tersebut. Sayangnya, pengembangan dan motivasi villainnya masih standar. Selain itu, Jude Law yang berperan sebagai Yon-Rogg, aktingnya tak terlalu memikat. Entah kenapa dia seperti tidak terlalu serius dan tidak menunjukkan performa terbaiknya. Apalagi, jika melihat film-filmnya sebelumnya, rasanya aneh ketika melihat Jude Law berakting seperti itu.

foto Jude Law (Yon-Rogg) dengan Brie Larson (Carol Denvers)
Akting Jude Law dan Brie Larson bagai bumi dan langit

Sebagai film superhero perempuan Marvel pertama yang memiliki filmnya sendiri, saya akui, mereka cukup sadar untuk memasukkan beberapa tema yang cukup politis di dalamnya. Tema seperti feminisme, perang, dan pengungsi perang ada dan menjadi bagian dari cerita Captain Marvel. Namun, itu hanya menyentuh permukaannya saja. Saya tidak tahu apakah Captain Marvel ingin menghindari pembahasan yang terlalu politis untuk menghindari kritik orang-orang ultra-nasionalis atau tidak. Kenyataannya, tema-tema tersebut ada dan sayangnya, hanya menjadi bumbu cerita saja tanpa penekanan lebih. Rasanya seperti melihat seseorang yang ingin membahas sesuatu yang berat, tapi tidak bisa menjelaskan hal tersebut lebih dalam.

Untuk bagian teknis, saya rasa tidak ada masalah yang terlalu mencolok. Kalaupun ada, mungkin itu adalah soundtrack yang dibuat oleh Pinar Toprak yang saya pikir kurang menonjol dan malah terkesan datar. Koreografi laganya juga tidak terlalu menarik sebenarnya dan cenderung biasa saja. Jika dibandingkan dengan film-film Marvel yang lain, fight scene Captain Marvel cenderung sederhana dan tidak flashy. Setidaknya, efek visualnya cukup bagus! Adegan-adegan di luar angkasa di tampilkan dengan cukup ok dan saya rasa tidak ada ruginya menontonnya di layar lebar. Satu hal yang mungkin saya apresiasi adalah bagaimana teknologi efek visual yang berkembang cukup pesat sampai bisa membuat Samuel L. Jackson (Nick Fury) jadi terlihat jauh lebih muda. Muka Samuel L. Jackson versi muda terlihat nyata dan seakan-akan tidak ditambahkan efek macam-macam. Padahal, seharusnya tampangnya jauh lebih tua dan kalaupun menggunakan efek untuk membuatnya lebih muda, sulit untuk bisa semulus itu. Pencapaian yang cukup tinggi sebenarnya.

foto Captain Marvel sedang beraksi di kereta
Tema politis hanya menyentuh permukaan saja

Akhir kata, Captain Marvel tidak terlalu berbeda dengan film-film Marvel sebelumnya. Yang membuatnya berbeda hanyalah cerita dan pengembangan tokohnya yang cukup kuat. Akting yang memukau dari Brie Larson juga menjadi nilai plus sendiri bagi film ini. Namun, usahanya sebagai film yang politis justru berakhir datar karena minimnya penekanan pada hal tersebut. Jika Anda berharap mendapatkan kisah superhero perempuan dengan tema feminisme yang kental, sebaiknya Anda menurunkan ekspektasi Anda. Pada Akhirnya, Captain Marvel hanyalah film superhero Marvel pada umumnya.

Captain Marvel dapat disaksikan di bioskop seluruh Indonesia mulai 6 Maret 2019

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen − one =