[Review] Black Mirror: Bandersnatch Indonesia

Dulu, kalau ingin menonton serial TV semacam sinetron atau sebagainya kita pasti melihatnya dari TV. Memang, tidak ada media lain selain TV untuk menikmatinya pada waktu itu. Sekarang, zaman sudah berubah dan semakin banyak orang yang tidak melihat TV lagi tapi melalui layanan streaming seperti Iflix, Hooq, dan sebagainya. Karena adanya mereka, serial-serial TV jadi semakin beragam dan semakin kreatif setiap saat. Tapi, salah satu layanan streaming, Netflix melakukan suatu inovasi yang mungkin belum pernah dilakukan ataupun terpikirkan oleh saingannya maupun TV konvensional. Yaitu membuat sebuah “film interaktif” dimana penonton lah yang menentukan bagaimana jalan cerita film itu sendiri. Dan Netflix berhasil melakukannya dalam film Black Mirror: Bandersnatch.

Bandersntach sendiri merupakan salah satu kisah dari serial Black Mirror dimana setiap episodenya menceritakan hal yang berbeda dengan aktor yang berbeda pula. Namun, setiap episode memiliki kesamaan yaitu tentang hubungan manusia dengan teknologi dan konsekuensinya. Untuk Bandersnatch, Black Mirror melakukan pendekatan yang berbeda dengan membuatnya sebagai “film interaktif” dimana di beberapa adegan, penonton akan disuruh untuk memilih 2 kemungkinan yang bisa dilalui. Dengan begitu, penonton lah yang menentukan bagaimana cerita ini berjalan dan juga bagaimana cerita ini akan berakhir.

Ilustrasi pilihan yang bisa dipilih penonton
Di beberapa adegan, penonton akan diminta untuk memilih di antara 2 kemungkinan seperti ini

Bandersnatch bercerita tentang Stefan (diperankan oleh Fionn Whitehead), seorang progammer yang sedang mengadaptasi sebuah novel choose-your-own-adventure menjadi sebuah gim video pada tahun 1984. Untuk film ini sendiri disutradarai oleh David Slade dan ceritanya masih dibuat oleh sang kreator Black Mirror, Charlie Brooker. Selain Fionn, film ini juga dibintangi oleh Will Poulter, Asim Chaudry, Craig Parkinson, dan Alice Lowe.

Jujur, Bandersnatch adalah film yang cukup sulit untuk direview. Sifatnya yang interaktif membuat setiap orang memiliki pilihan yang berbeda-beda dan tentu saja penilaian yang berbeda-beda pula. Memang, Netflix menyediakan semacam pilihan untuk kembali ke adegan sebelumnya untuk memilih pilihan yang lain. Namun, suasana setiap ending ternyata cukup berbeda. Walaupun, memiliki tema yang tetap sama.

Dari segi cerita, Charlie Brooker masih sukses membawakan cerita yang cukup gelap namun juga berhasil memanfaatkan format film ini yang interaktif. Berbagai pilihan yang ada cukup berpengaruh pada alur cerita dan juga ending yang akan kita dapat. Pilihan yang ada pun dibuat cukup kompleks dengan berbagai pilihan yang terkait satu sama lain. Sehingga, untuk mendapatkan suatu ending tertentu tidak semudah “memilih pilihan A” lalu Anda akan dapat “ending A”. Anda mungkin perlu untuk memilih “pilihan A, B, C” secara berurutan untuk memunculkan “pilihan D” dimana pilihan D itu jika dipilih akan membuat Anda mendapatkan “ending E”. Yang cukup saya suka adalah adanya beberapa pilihan yang secara terang-terangan membuat kita menjadi tokoh antagonis dari Bandersntach (iya, kita yang nonton jadi tokoh yang jahat!).

Ending yang ada cukup beragam dari yang mengkritik penonton soal kebiasaan kita dalam melihat konten hiburan, ending yang berakhir bahagia namun tragis, sampai ending yang breaking the 4th wall. Perlu diingat, tidak ada ending yang 100% persen benar maupun 100% salah. Karena, walaupun berbeda setiap ending memiliki benang merah yang sama soal meraih kebebasan dan kemauan untuk menentukan nasib kita sendiri. Termasuk jalan mana yang akan kita pilih untuk Stefan di Bandersntach. Suatu tema yang mungkin akan sulit disampaikan selain dalam bentuk film interaktif seperti ini.

ilustarsi adegan Black Mirror: Bandersnatch
Jadi pilih yang mana?

Dari sisi teknis, tidak ada yang jauh berbeda dengan episode-episode yang lain. Hanya saja, saya cukup apresiasi para aktor Bandersntach seperti Fionn Whitehead yang cukup sukses menampilkan penampilan terbaiknya untuk memerankan tokoh Stefan. Dari yang ia frustrasi, kehilangan akal, sampai depresi ditampilkan dengan ciamik karena penampilannya yang believeable. Selain itu, kualitas akting tokoh yang lain juga patut dipuji. Walaupun setiap pilihan mengarah ke cerita yang berbeda, mereka masih menampilkan kualitas yang tak berbeda antar pilihan yang satu dengan pilihan yang lain.

Secara garis besar, Netflix sukses menampilkan suatu hiburan yang berbeda dari layanan mereka. Dengan memanfaatkan salah satu konten tersukses mereka, Netflix mampu dan berhasil membuat konten interaktif yang mungkin akan sulit untuk dilawan oleh saingannya. Apalagi, Bandersnatch memiliki cerita yang apik dan dapat memanfaatkan format interaktif yang ia miliki. Kalau boleh dibilang, Black Mirror: Bandersnatch adalah salah satu konten Netflix yang tak boleh Anda lewatkan.

https://www.youtube.com/watch?v=XM0xWpBYlNM

Black Mirror: Bandersnatch dapat Anda tonton disini melalui Netflix dengan perangkat yang mendukung

2 Comments

  • cara penyajian Review yang sangat keren, Good job mi

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 − 9 =