[Review] Antologi Rasa

Sinopsis: Dari novel Antologi Rasa karya Ika Natassa; Cerita tentang empat banker yang telah bersahabat bertahun-tahun: Harris (Herjunot Ali), Keara (Carissa Perusset), Ruly (Refal Hady), dan Denise (Atikah Suhaime), yang diam-diam ternyata saling mencinta. Harris yang cinta mati pada Keara; Keara yang percaya Ruly adalah belahan jiwanya; Ruly yang hatinya telah terpatri pada Denise; dan Denise yang telah menikah pada orang lain.

Diangkat dari novel laris karya Ika Natassa berjudul sama, Antologi Rasa adalah karya teranyar dari sutradara Rizal Mantovani (Jailangkung, Supernova, 5 cm) bersama dengan rumah produksi Soraya Intercine Film. Novelnya sendiri adalah salah satu novel Ika Natassa yang paling terkenal dan tentu saja kehadirannya dalam format film banyak dinanti oleh penggemarnya. Saya sendiri sebenarnya adalah salah satu orang yang tidak pernah membaca novel aslinya. Tapi, dari trailer yang telah rilis, Antologi Rasa tidak terasa spesial dan malah seperti film romansa Indonesia tipikal yang berlatar di luar negeri. Tidak baik memang menilai film berdasarkan trailernya saja. Lalu , seburuk itu kah?

salah satu adegan Antologi Rasa
Bagaimana kisah cinta segitiga mereka?

Antologi Rasa dibuka dengan degan adegan Keara dan Harris yang sedang menaiki pesawat. Kita tahu dari monolog Keara bahwa mereka berdua bukan sedang pacaran tapi cuma sahabat saja. Mereka berdua sedang perjalanan saja ke Singapura untuk menonton F1 yang sangat ditonton oleh Harris. Keara lanjut menjelaskan bahwa perjalanan mereka seharusnya bertiga bersama teman/crush-nya bernama Ruly yang tidak bisa ikutan karena sibuk dengan urusan kantor. Keara pun lanjut menjelaskan tentang bagaimana mereka bertiga dan Denise bisa menjadi sahabat dan bagaimana Keara bisa jatuh hati dengan Ruly. Untuk bagian pembuka film, bagian ini sudah termasuk cukup baik. Semua tokoh memang tidak muncul secara langsung. Tetapi, penyampaian monolog yang baik dengan penggunaan flashback yang efektif membuat bagian pembuka ini tidak terasa membosankan. Malah membuat penonton merasa tertarik dengan kisah cinta Keara.

BACA JUGA: [Review] Alita: Battle Angel Indonesia

Sayangnya, hanya bagian itu saja yang menurut saya lumayan. Sisanya? Cukup mengecewakan. Dari materi promosi, poster, trailer, dan sebagainya, saya yakin yang sebenarnya dijual dari sini adalah cinta segitiga antara Keara, Harris, dan Ruly. Tentu, penonton seharusnya dapat suatu cerita yang memuaskan tentang drama percintaan ketiganya bukan? Ternyata tidak. Kisah romansa dengan pendekatan cinta segitiga seharusnya akan jauh lebih menarik jika penonton disajikan pengembangan tokoh yang kuat dan menarik dari semua orang yang terlibat. Sayangnya, pengembangan yang cukup minim membuatnya seperti cinta antara dua orang saja. Kalau ingin spoiler sedikit, intinya Keara suka sama Ruly. Ruly “dianggap” suka oleh Denise oleh Keara karena menurutnya, ia selalu ada untuk Denise walaupun dia sudah menikah. Harris? Tentu saja dia suka sama Keara. Tapi, Keara tak merasa demikian. Dengan inti cerita seperti itu, saya justru merasa tokoh-tokoh yang lebih dikembangkan adalah Keara dan Harris saja. Sementara Ruly dan Denise yang seharusnya “terlibat” dalam kehidupan Cinta Keara malah minim pengembangan bahkan Denise lebih seperti figuran saja. Untuk Ruly, saya justru merasa kasihan. Dia sudah muncul di berbagai materi promosi eh, di filmnya malah cuman begitu saja. Saya justru tidak mengenal tokoh Ruly selain dia “suka membantu orang lain” dan “shalat subuh di apartemen orang”.

salah satu adegan Antologi Rasa
Intinya, cuman kisah cinta mereka berdua saja!

Konflik yang di bangun pun tak semenarik yang Anda bayangkan. Pengembangan karakter yang minim membuat konflik cinta segitiga ini terasa hampa. Seperti yang saya bilang di paragraf sebelumnya, hanya Harris dan Keara yang karakternya benar-benar di eksplor. Ruly yang seharusnya terlibat lebih dalam cinta segitiga ini malah seperti penghias saja. Yang sangat saya sayangkan adalah beberapa bagian cerita yang kurang di eksplor. Padahal, di beberapa adegan ada bagian penting yang jika saja masuk ke cerita utama, filmnya akan menjadi jauh lebih baik. Saat di monolog awal, kita dikenalkan kepada 4 sahabat ini yang kerja di bank besar. Sayangnya, Antologi Rasa justru tidak menunjukkan dinamika persahabatan antara keempatnya. Kalau pun ditunjukkan, itu pun cukup minim. Pembahasan soal mimpi, passion, dan lifegoals yang di bahas oleh Keara dan Harris saat di Singapura juga hilang begitu saja tanpa di eksplor lebih jauh. Padahal, pembahasan tersebut sangat menarik dan sesuai dengan realita anak muda zaman sekarang dan saya rasa kalaupun hal tersebut disatukan dengan cerita utama soal cinta segitiga tidak ada salahnya. Sayangnya, mereka tidak membahas lebih lanjut soal hal-hal tersebut dan malah lebih memfokuskan ke kisah cinta Keara yang tidak terasa spesial sama sekali.

Dari sisi teknis, sayang sekali tidak ada juga yang bisa dibanggakan. Carissa Perusset, yang baru pertama kali berseni peran menjadi Keara sebenarnya cukup lumayan performanya. Tapi, tokoh yang lainnya biasa saja. Terutama Herjunot Ali, yang sayangnya aktingnya masih kaku dan annoying sebagai Harris. Untuk soundtrack, bagian ini yang saya paling tidak suka. Lagu dari Geisha dan Nidji memang tidak buruk. Tetapi, soundtracknya sangat overused! Hampir di setiap adegan pasti memakai latar lagu yang sama dan terlalu sering diputar dan membuat saya sangat terganggu. Padahal, tidak semua adegan lagunya pas. Pun, setiap adegan tidak harus ada lagunya juga tidak masalah bukan? Sinematografinya juga tidak terlalu mendukung terutama beberapa adegan berlatar di Singapura dan Bali yang lebih mirip sebuah promo wisata daripada film layar lebar.

salah satu adegan Antologi Rasa
#JusticeForRuly

Akhir kata, Antologi Rasa memang film yang mengecewakan. Cerita yang lemah, pengembangan tokoh yang minim, dan sisi teknisnya yang tidak spesial membuat saya agak menyesal menontonnya di bioskop. Saya sendiri memang tidak membaca novelnya. Mungkin saja yang memang sudah menyukai karya-karya Ika Natassa terutama Antologi Rasa memiliki pendapat yang berbeda dengan Saya. Atau mungkin malah sama? Yang jelas, Antologi Rasa sukses menjadi salah satu film terburuk pertama yang saya tonton tahun ini.

Antologi Rasa dapat disaksikan di bioskop seluruh Indonesia mulai 14 Februari 2019

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 − thirteen =