[Review] Abracadabra

Sinopsis: Di panggung itu, berdiri tegak seorang pria yang memakai jubah dengan sebuah tongkat. Lukman (Reza Rahadian) namanya. Seorang pesulap atau grandmaster yang sedang menampilkan sulap terakhirnya kepada para pesulap lainnya. Ia pun memilih seorang anak kecil untuk menjadi sukarelawan dalam pertunjukkannya untuk menghilangkan anak tersebut dalam sebuah kotak. “Abracadabra!”, teriaknya kepada kotak itu. Dibukalah kotak tersebut dan tentu saja, anak itu menghilang. Diucapkanlah kembali mantra tersebut. Setelah dibuka, anak itu tak kembali! Hilang ke mana anak itu?

“Ini Indonesia?”, gumam saya ketika menonton Abracadabra di bioskop. Semua bangunannya bercat berwarna-warni. Estetikanya bak dari film Wes Anderson. Desain kostumnya pun seperti orang Eropa. Tapi, Soekarno dan kejadian 1965 tetap disinggung. Jadi seharusnya Indonesia kan? Daripada berdebat batin soal hal tersebut, Saya terus saja menontonnya. Perasaan takjub, rasa ingin tahu, dan humor gelap, bergabung jadi satu sepanjang film ini. Memang, Abracadabra adalah film Indonesia yang sangat berbeda.

Harimau Sumateran di ruangak berwarna Pink

Abracadabra adalah film teranyar dari rumah produksi Fourcolour Films (Siti, Kucumbu Tubuh Indahku) dan menjadi film termahal yang diproduksi oleh mereka. Disutradarai oleh Faozan Rizal (Habibie & Ainun), film ini disebut sebagai “imajinasi” dari sang sutradara yang sudah tergambarkan 4 tahun lalu. Sebelum tayang reguler, Abracadabra telah tayang perdana dan menjadi film pembuka di event Jogja-NETPAC Asian Film Fest 2019. Pemainnya sendiri terdiri dari ensemble cast seperti Reza Rahadian, Salvita Decorte, Lukman Sardi, Asmara Abigail, Jajang C Noer, Paul Agusta, dan lain-lain. Dengan kombinasi rumah produksi, sutradara, dan pemain yang ternama, bagaimanakah hasil filmnya?

Pertama-tama, adalah dari cerita. Disaat perfilman kita masih didominasi oleh horor, Abracadabra mengambil jalan sebagai film dengan genre fantasi dan misteri. Lukman, seorang pesulap, harus mengungkap misteri kotak Yggdrasil dan bagaimana ia dapat ‘menghilangkan’ semua orang yang masuk ke dalamnya. Dengan durasi 86 menit, misteri kotak tersebut terungkap secara perlahan dengan cara yang cukup unik. Di paruh kedua film ini, Abracadabra langsung berubah menjadi film road-trip di mana Lukman melakukan perjalanan ke berbagai tempat dan bertemu dengan berbagai orang untuk menemukan jawaban dari misteri kotak Yggdrasil.

abracadabra memang penuh surprise

Yang kedua adalah tokoh. Memang, film ini terdiri dari banyak sekali tokoh yang sulit untuk diingat. Untungnya, desain dari setiap tokoh sangat unik dan memorable. Kostum khas Eropa yang dibuat oleh Hagai Pakan sangat menonjol di setiap tokoh. Meskipun khas Eropa, estetikanya sangat cocok dengan latar belakang setiap tokoh yang notabene pesulap. Ditambah, dialog setiap tokoh yang jenaka membuat seluruh karakternya tidak kalah berwarna dari latar tempat Abracadabra.

BACA JUGA: [Review] Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini

Soal pengembangan karakter, Lukman adalah yang paling menonjol. Misteri Yggdrasil yang perlahan terungkap juga berbarengan dengan terungkapnya siapa sebenarnya Lukman dan hubungannya dengan kotak tersebut. Lukman yang awalnya hanya ingin mengembalikan orang-orang yang menghilang malah juga mendapatkan jawaban atas apa jati dirinya. Pembawaan cerita yang rapi dan dialog yang efektif membuat kombinasi kedua hal tersebut terasa natural dan tak terasa tiba-tiba. Apalagi, character arc Lukman yang ‘tuntas’ membuat penonton merasa puas akan perkembangannya. Performa yang penuh pesona dari Reza Rahadian juga semakin membuat tokoh Lukman makin rupawan.

akting reza rahadian masih wah

Namun, rasa-rasa film arthouse masih cukup kental di film ini. Penggunaan berbagai metafora dan simbolisme yang ada mungkin memiliki makna tersembunyi di dalamnya. Penonton pun mungkin dapat menginterpretasi sendiri apa maksudnya. Namun, bila Anda tak terlalu mengerti apa maksudnya ataupun tidak mengerti apa yang dapat diinterpretasikan, itu sama sekali tak masalah. Abracadabra masih dapat dinikmati dengan ringan apalagi dengan berbagai adegan pengundang tawa dari drama kejar-kejaran antara Lukman dan para polisi.

Dari sisi teknis, tak perlu dipertanyakan lagi. Cukup lihat trailernya dan Anda akan tahu betapa tak biasanya gaya dari film ini. Seluruh latar tempatnya penuh dengan palet warna mencolok. Komposisi dan pengambilan gambarnya juga sangat tak biasa bak film-film Wes Anderson. Meskipun begitu, tak terasa sama sekali bahwa film ini ‘meniru’ Wes Anderson. Gaya boleh saja mirip. Namun, ini tetap film Faozan Rizal dan Abracadabra mungkin adalah film Indonesia yang paling ‘liar’ dari sisi teknis karena gayanya yang tak biasa.

komposisi tak biasa

Abracadabra adalah sebuah keajaiban. Sangat sulit dipercaya bahwa dari perfilman Indonesia dapat lahir sebuah karya yang tak biasa seperti ini. Cerita dan gayanya yang tak biasa membuat Abracadabra menjadi film Indonesia yang paling tak biasa tahun ini. Abracadabra membuktikan bahwa jauh di dalam industri perfilman kita masih ada orang kreatif yang mau dan mampu menghasilkan karya sesuai visinya seliar apapun itu.

Abracadabra dapat disaksikan di bioskop seluruh Indonesia mulai 9 Januari 2020

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × four =